16 Mei 2013

LUV GREAT For Globalization Competition



           Everyone has a lot of dreams. Some people want to be rich, some want to be an entrepreneur, some want to be high educated, some want to be famous or even to be president and so on. However, in this globalization era there is no limit for dreaming. Nowadays dreams are like internet that has no space and time limits. One can dream his success on an international scale. Many people have these dreams, for example the entertainers. In the beginning of 2012, some of them make a resolution to go international, go Asia etc. In academic field, since a long time ago the students of Indonesia have been competing to get scholarship for studying abroad. Even, many of them achieved a success abroad. So, nothing is impossible as long as we are brave to dream. We just need to change our dream up to international scale.
Indeed, that people need to think how to achieve dreams. Therefore, who wants to be success has to have the fundamental condition to achieve the dreams. It does not depend on the great wealth of someone, or the honor of family ties or the social status. But it depends on someone’s motivation to be success. Why it should be motivation? According to Wortman and Elizabeth (1992) that quoted by Moeljono (2011) in 13 Konsep Beyond Leadership’s book, motivation is something that guide someone’s acting for achieving the goal.
There are two motivations based on the source, those are internal motivation and external motivation. The internal motivation comes from ourselves and the external motivation comes from outside of ourselves. The external motivation may come from parents, close friends, teachers, family, and so on. The internal motivation or self motivation is better than external motivation.  Without self motivation, it’s hard for someone to make any effort to be a successman. Because how good motivation we get from.......

30 Nov 2012

Hal-hal yang Sudah Hilang dalam Kehidupan Umat Islam



Bila direnungkan, zaman sekarang ini banyak yang hilang dari kehidupan umat Islam. Umat Islam seperti digambarkan Al-Qur’an sebagai “khaira ummah” yaitu sebaik-baiknya umat yang memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, sudah banyak tidak terbukti, jauh panggang dari api. Banyak yg sudah hilang dalam tubuh umat Islam, mereka kehilangan pegangan dalam banyak hal. Agama lebih banyak sebagai ilmu bukan sebagai nasehat dan perenungan. Nilai-nilai kehidupan banyak yang sudah terbalik. Akhirat jarang diperbincangakn dan diperhatikan, tapi urusan dunia dikejar habis-habisan. Kenikmatan fisik, tubuh dan materi dipuja-puja, dijadikan kebutuhan pertama dan utama. Di bawah ini adalah lima hal yang sudah hilang dari umat Islam sehingga mereka kehilangan ruh agamanya yang justru seharusnya didapatkan dari keberagamaanya.
————————
1. Keteladanan
Dalam kehidupan umat Islam sekarang, adalah kenyataan bahwa keteladanan telah “hilang” dan sulit ditemukan. Keteladanan Nabi saat ini hanya di mulut, hanya bahan ceramah dan khutbah. Akhlak yang agung, pribadi yang mulia dan keteladanan yang indah sulit ditemukan dari para pemimpin bahkan termasuk para ulamanya. Mereka sudah dikotori oleh penyakit hubbud dunya (cinta dunia). Pemimpin sudah mengabaikan agamanya sebagai pedoman dalam memutuskan persoalan, para ulama bermain politik sehingga banyak dari mereka lebih membela kepentingan kelompok dan organisasinya daripada kepentingan umat. Umat sering kebingungan harus lari kemana, menghampiri siapa, mencontoh siapa ketika mereka dilanda krisis dan masalah yang berat, kehilangan kepercayaan kepada pemimpin ketika mereka resah dan frustasi oleh kondisi sosial politik dan ekonomi. Pemimpin tidak tegas dan melindungi yang salah, yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan, yang penting disepelekan dan yang sepele dibesar-besarkan. Keadilan, keamanan, ketenangan dan kenyamanan hidup sudah susah ditemukan. Orang berlomba-lomba untuk saling menyelematkan dirinya masing-masing, saling sikut, saling terjang, saling serempet, saling tuduh, saling injak dan saling tidak peduli dengan yang lain. Krisis keteladanan sudah melanda umat dari level paling bawah sampai level paling atas sehingga umat Islam dilanda kebingungan, kehilangan pegangan. Inilah salah satu ciri umat Islam sekarang.
2. Pegangan
Yang hilang kedua dari kehidupan umat Islam sekarang adalah pegangan. Umat Islam percaya kepada Allah SWT, mengaku beragama Islam, memiliki Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, memiliki Nabi Muhammad SAW dan para ulama sebagai pemimpin umat, tapi mereka seperti kehilangan pegangan. Dalam prakteknya, kepada Allah SWT lebih banyak hanya sebagai pengakuan di mulut, kemusliman hanya sebagai identitas diri, meyakini Nabi Muhammad SAW hanya kata-kata, memiliki Al-Qur’an hanya formalitas dan kebanggaan semata, sementara akhlak dan perilaku jauh dari tuntunan agama. Makanya, begitu dilanda masalah dan persoalan, cobaan, ujian dan bencana, mereka kehilangan pegangan, bingung, panik dan kelimpungan. Seolah tidak tahu harus berbuat apa. Lupa pada agama, lupa bahwa kita mempunyai Allah yang maha melindungi. Lupa bagaimana menurut agama bila ditimpa masalah dan cobaan. Agama hilang saat dilanda masalah. Yang ada adalah kesal, marah, menggurutu, mengamuk dan seterusnya. Atau, sedih, pilu, kehilangan harapan karena sudah tidak ada pegangan.
3. Perbincangan
Yang juga sudah hilang dari kehidupan umat Islam saat ini adalah perbincangan. Maksudnya perbincangan ilmu yang bermanfaat, perbincangan yang mengingatkan kepada Allah SWT, tentang agama sebagai nasehat bukan hanya sebagai ilmu. Perbincangan yang menambah keimanan dan meningkatkan kesadaran. Perbincangan yang saling menegur kesalahan dan saling mendukung dalam kebenaran. Perbincangan seperti ini, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, adalah ciri orang yang beriman. Hidup manusia dalam keadaan merugi “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati agar mentaati kebenaran dan menjalani kesabaran.” (Al-Qur’an, Ashar: 3) Perbincangan seperti ini sangat jarang sekali ditemukan dalam obrolan di kantor, di tempat kerja, di kantin, di keluarga, dalam pergaulan dengan teman, di partai politik, di organisasi dan sebagainya. Yang dibicarakan dimana-mana pasti soal pekerjaan, jabatan, uang, hobi atau kesukaan, rumah, kendaraan, perempuan dan apa saja yang sifat material, duniawi. Amat jarang terdengar perbincangan yang meningkatkan kesadaran agama, bagaimana meningkatkan kualitas persahabatan, apalagi perbincangan tentang persiapan menghadapi kematian dan akhirat yang pasti datang kepada semua orang. Perbincangan tentang ini semua, umumnya dirasakan tidak menarik dan tidak perlu. Ada sebagian orang ngobrol soal kematian tapi tidak dengan penghayatan bahkan sambil tertawa-tawa. Ketika ada yang tidak suka, biasanya ada ungkapan: “Mati itu tidak perlu diobrolkan. Nanti juga datang dengan sendirinya. Toh, semua orang pasti akan mati.” Begitulah umumnya kita. Padahal, perbincangan tentang hal-hal di atas justru itulah yang bermanfaat karena ada kaitannya dengan peningkatan kesadaran diri.
4. Perseteruan
Yang sudah hilang keempat dalam kehidupan umat Islam adalah perseteruan. Maksudnya disini adalah persaingan fastabiqul khirâts yaitu perlombaan dalam kebaikan, akhlak, prestasi dan kemuliaan. Persaingan yang terasa lebih hidup dan lebih menonjol di kalangan umat Islam sekarang umumnya adalah persaingan antar kelompok, antar golongan, antar organisasi, antar madzhab atau faham, persaingan dalam kekuasaan politik, kedudukan dan jabatan. Persaingan dalam kerakusan, menumpuk kekayaan dan persaingan dalam mengejar kepuasan hidup di dunia. Itu-itu saja. Banyak sekali persaingan di kalangan umat yang justru bukan yang dianjurkan oleh agama, bukan persaingan menuju keridhaan Allah SWT. Kebanyakan persaingan adalah urusan dunia seperti jabatan, kedudukan, kekuasaan politik, materi, harta dan sebagainya yang jelas-jelas akan ditinggalkan oleh manusia. Tapi umumnya, justru itulah yang dikejar-kejar dan dipersaingkan. Kehidupan akhirat sebagai masa depan kita, yang akan datang menjelang, yang akan dialami oleh semua orang, yang akan dilalui oleh semua manusia, ditinggalkan dan dilupakan. Ketika kehidupan akhirat diperbincangkan di kantor, di tempat kerja, dalam obrolan, malah dianggap tidak menarik, aneh dan tidak penting, malah diledek dan ditertawakan. Kehidupan ini sudah terbalik dan manusia akan merasakan akibat dari pola kehidupannya yang sudah terbalik itu.
5. Penyadaran
Terakhir, penyadaran. Kegiatan-kegiatan yang tujuannya menyadarkan orang ke jalan Allah SWT, meningkatkan derajat kemuliaan, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, nasehat untuk tidak melakukan pelanggaran, untuk menghindari perbuatan-perbuatan dosa, dan untuk segera bertaubat kepada Allah SWT jarang kita lakukan. Memang banyak kegiatan pengajian dan ceramah, tapi banyak ceramah tanpa ruh, tidak menyadarkan. Penyadaran jarang terdengar dalam obrolan, jarang diperbincangkan, bila diobrolkan terdengar aneh dan tidak menarik. Kita sekarang ini lebih tertarik untuk bekerja, bekerja dan bekerja karena jelas menghasilkan uang, untuk memuaskan nafsu kebendaan kita. Tanpa sadar, kita menganggap agama adalah urusan pribadi, tidak usah diobrolkan. Hati dan jiwa ditinggalkan dan dibiarkan kering dan gersang. Sebaliknya, kebutuhan raga, jasmani, fisik setiap hari dipuaskan dengan makanan enak, dengan benda-benda mewah dan mahal. Jiwa yang kering dan hati yang gersang tidak mau diakui dan tidak mau dirasakan sebagai akibat dari kurangnya memperhatikan urusan agama, karena tidak tertariknya pada nasehat, karena jarangnya berhubungan dengan Allah SWT secara serius, khusyu dan penuh penghayatan. Umumnya, bila kita menyaksikan teman kita ngobrol tentang nasehat, penyadaran, kita tidak tertarik. Bila tertarik pun tidak sungguh-sungguh, karena menganggap pekerjaan sehari-hari lebih penting untuk mencari uang dan uang. Tanpa sadar, kepuasan kita masih berada dalam derajat yang rendah yaitu kepuasan uang, benda dan materi. Kita belum merasa betah berada dalam lingkungan nasehat, lingkungan yang mengingatkan, obrolan yang menyadarkan, pembicaraan yang menyejukkan, perbincangan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.[]
Wallahu a’lam!!

Sumber : http://moeflich.files.wordpress.com